Sewaktu masih ‘kost’ di pkm -pusat kegiatan mahasiswa- unsoed, pakaian kebesaran saya adalah kaos oblong hitam dan jeans belel. Seawut-awutan apapun tampang saya, akan tetap merasa seksi dengan pakaian kebesaran itu. ‘Teman-teman sering bertanya sudah mandi apa belum?’ gara-gara selalu memakai kaos hitam. Mungkin mereka pikir saya tidak pernah ganti baju ditambah tampang saya yang lecek jauh dari kesan orang habis mandi. Jika kini mereka ditanya seperti apa seorang anggih, bayangan tentang pemuda gondrong, dekil, semrawut yang enggak punya tempat kost, mungkin seperti itu jawaban teman-teman saya. Waktu itu saya beranggapan kebebasan adalah segalanya, bebas mengekspesikan diri, bebas dari norma yang mengekang. Anti kemapanan adalah seksi. Kini di batavia, gaya itu harus saya tinggalkan. Bekerja saya harus memakai kemeja, celana baggy, jas dan dasi. Rambut harus selalu pendek klimis, kuku pendek, dan no bekas cabe nyempil disela gigi. Saya merasa canggung dengan dasi. Ketat. Akan saya tuntut penemu dasi. Apalagi jas, karena saya bukan soekarno yang gagah dengan jas apapun. Dia gagah dengan jas licin seputìh salju itu, berpidato yang membuat semua orang terkesima. ‘Inikah orang indonesia, betapa gagahnya dengan jas dan suara kharismatiknya’. Sementara anggìh ber jas dan berpidato, lebih mirip tukang obat kudis. Saya Risih, karena saya adalah orang kampung. Paling pol pakai kemeja batik sewaktu kondangan kini harus memakai jas. Betapa kikuknya saya harus memakai pakaian londo ini. Saya begitu yakin orang kaya sekalipun, tidak semuanya pantas memakai jas. Tukul arwana adalah contoh yang pas, semahal apapun jasnya tukul terasa aneh dilihat mengenakan jas karena wajahnya lebìh sinkron jika dia memakai caping dang memanggul cangkul. anggih pakai setelan jas? Mirip vokalis kangen band kata teman-teman. Huuu :_(