semester pendek

Beberapa hari yang lalu dengan berat hati saya keluarkan dana darurat militer untuk membiayai es-pe. Sebenernya uang itu akan saya pergunakan untuk jalan-jalan ke karimunjawa atau paling tidak ke yogya. Tapi demi menjadi manusia pandai, cerdik, cendekia, saya ikhlaskan. Biar miskin asal pinter, kan mending.
Hari ini adalah hari pertama es-pe. Setelah jalan-jalan ke plaza semanggi saya sembalap menuju kampus mercubuana meruya tercinta. Dengan langkah mantap saya menuju ke ruang B403 tempat kuliah akuntansi manajemen. Celingak-celinguk ora önö manusia barang seekorpun. Segera saya turun menuju tata usaha FE.
‘mas, mata kuliah yang mas ambil ditutup. Karena peminatnya kurang. Uangnya tidak bisa diambil. digunakan untuk biaya kuliah semester depan.’
asuuuuuu teleeeees!!!
Saya hanya bisa melongo mendengar penjelasan mas-mas TU FE itu.
Setelah uang kau ambil dan tak bisa di refund. Aku tetap tak bisa mengulang kuliah. Duh Gusti nu Agung…
Dengan langkah gontai pulang ke kost. Menarik selimut sampai kepala sambil merenungi betapa pandirnya saya.
Kini saya benar-benar dalam situasi komikal. MISKIN DAN TAK BERPENDIDIKAN.
Selamat tinggal karimunjawa..

Iklan

jono walker ala banyumas

Semalam saya melihat seorang kawan digotong oleh beberapa teman yang lain. ‘knapa tuh?’ ‘kebanyakan’ jawab seorang teman. Kebanyakan.., sudah pasti terlalu banyak minum minuman beralkohol. Teringat dikampung saya dijawa sana, di daerah bekas karesidenan banyumas terdapat minuman beralkohol yang maha dashyat. Minuman ini disebut ciu. Rasanya manis pahit panas, menyayat tenggorokan. Bahannya campuran antara gula kelapa, tape singkong, laru dan -mungkin- sedikit baygon. Kandungan alkoholnya 40-60%, setara dengan om jack, om johny dan kawan-kawan. Harganya sangat murah, 1 liternya mungkin hanya ceban. Dengan 1 jerigen ciu dapat digunakan pesta minuman oleh 20 orang, semua peserta dijamin nungging diakhir pesta. Ciu biasanya diminum pemuda2 saat akan menonton dangdut atau saat akan tawuran. Seperti jangkrik diberi pakan cabai, seperti itulah efek orang yang nenggak ciu. Muka memerah hitam, bawaannya pengen nempeleng orang, sok jagoan. Makanya cocok sekali diminum menjelang tawuran. kawan saya, mahasiswa kere di purwokerto biasanya minum ciu tengah hari bolong, main gaple cuma pakai celana kolor. Dari jauh terlihat seperti kadal berjemur: bergerombol, coklat dan blingsatan. Seorang preman (lebih tepatnya kroco mumet) pasar wage tidak akan afdol malaknya jika sebelumnya belum menenggak ciu. Kurang kelihatan beringas. Frustrasi putus cinta, masalah keluarga, masalah akademik dapat dilupakan dengan hanya menenggak ciu seukuran botol greentea. Semua masalah seakan no problemo. Masalahnya, fase slowing down dari minum ciu adalah sebuah proses yang sangat menyiksa. Lidah seakan dibakar, isi lambung seakan diaduk-aduk, dug dug dug seperti di pukul mike tyson dan kepala pusing tujuh keliling dan berat. Sunggung siksa dunia. Topi miring, rajawali, intisari, king horse semuanya lewat. Yang ini jagonya bikin puyeng. Belum lagi kalau sampai jackpot, bau amoniak menyeruak. Biasanya yang jackpot tidak akan sanggup melangkah jauh dari bekas jackpotnya. Bahkan tidur ditoilet, comberan, sisi tiang listrik, tergantung dimana dia jackpot. kini ciu sedang diteliti oleh para ahli untuk digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Entah alternatif dari bensin, solar atau minyak tanah. Baiknya bensin, solar dan minyak tanah dijadikan minuman alternatif pengganti ciu. Mungkin efeknya sama. Ada yang berminat mencoba?

susahnya kalau punya muka ndeso

Sewaktu masih ‘kost’ di pkm -pusat kegiatan mahasiswa- unsoed, pakaian kebesaran saya adalah kaos oblong hitam dan jeans belel. Seawut-awutan apapun tampang saya, akan tetap merasa seksi dengan pakaian kebesaran itu. ‘Teman-teman sering bertanya sudah mandi apa belum?’ gara-gara selalu memakai kaos hitam. Mungkin mereka pikir saya tidak pernah ganti baju ditambah tampang saya yang lecek jauh dari kesan orang habis mandi. Jika kini mereka ditanya seperti apa seorang anggih, bayangan tentang pemuda gondrong, dekil, semrawut yang enggak punya tempat kost, mungkin seperti itu jawaban teman-teman saya. Waktu itu saya beranggapan kebebasan adalah segalanya, bebas mengekspesikan diri, bebas dari norma yang mengekang. Anti kemapanan adalah seksi. Kini di batavia, gaya itu harus saya tinggalkan. Bekerja saya harus memakai kemeja, celana baggy, jas dan dasi. Rambut harus selalu pendek klimis, kuku pendek, dan no bekas cabe nyempil disela gigi. Saya merasa canggung dengan dasi. Ketat. Akan saya tuntut penemu dasi. Apalagi jas, karena saya bukan soekarno yang gagah dengan jas apapun. Dia gagah dengan jas licin seputìh salju itu, berpidato yang membuat semua orang terkesima. ‘Inikah orang indonesia, betapa gagahnya dengan jas dan suara kharismatiknya’. Sementara anggìh ber jas dan berpidato, lebih mirip tukang obat kudis. Saya Risih, karena saya adalah orang kampung. Paling pol pakai kemeja batik sewaktu kondangan kini harus memakai jas. Betapa kikuknya saya harus memakai pakaian londo ini. Saya begitu yakin orang kaya sekalipun, tidak semuanya pantas memakai jas. Tukul arwana adalah contoh yang pas, semahal apapun jasnya tukul terasa aneh dilihat mengenakan jas karena wajahnya lebìh sinkron jika dia memakai caping dang memanggul cangkul. anggih pakai setelan jas? Mirip vokalis kangen band kata teman-teman. Huuu :_(

jodoh

Ketika sedang sakit seperti hari ini, saran nylekit tentang jodoh dari teman-teman kembali berhamburan, ‘makanya punya pacar’ begitu singkatnya. Orangtua saya pun idem ditto.. ’emangnya gak punya cewek? Trus siapa yang ngerokin?’ setiap ada kesempatan mereka selalu menusuk saya dengan pertanyaan, sindiran tentang cewek tepat di ulu hati. Hari ini terang-terangan mereka berkata kalau saya gak punya pacar juga, mereka akan menjodohkan saya dengan perempuan pilihan mereka. Dalam budaya jawa timur tempat bapak saya berasal, laki-laki dewasa seperti saya pasti telah memiliki minimal 2 orang anak yang telah bersiap sekolah di sekolah dasar. Bahkan mungkin saya juga seharusnya telah bersiap mengambil seorang istri lagi. Apalagi adik perempuan saya satu-satu nya masih jauh dari kata ‘sarjana’. Jadilah saya sebagai anak pertama dan laki-laki pula yang ketiban apes dikejar-kejar untuk segera kawin. Permasalahannya, ketika muda saya sudah kenyang pacaran. Berganti-ganti pacar. Pengalaman dimasa muda itulah yang meninggalkan trauma. dulu saya pernah berhubungan dengan ‘cewek anak mami’, ‘cewek plin-plan’, ‘cewek borju’, ‘cewek macho’, ‘cewek-sok-smart’. Dan masih banyak lagi. Diantara semua cewek itu yang paling tidak rewel adalah cewek matre, anaknya manis, penurut, selalu cantik dan wangi. Kalo ditanya, jawabannya hanya 2: ‘ya’ dan atau ‘terserah’. ‘makan disana ya’ dia jawab ‘ya’. ‘Makan cicek panggang ya’ dia jawab ‘terserah’. Masalahnya dulu sewaktu pacaran saya masih ‘dibiayai’ ortu. Sekarang saya malu hati kalo untuk pacaran harus sms ke papua minta ongkos jalan-jalan. Penghasilan saya hanya 1/8 penghasilan ortu. Mana ada cewe matre mau sama cowok kere. Dulu saya paling mudah jatuh cinta pada cewek sok smart, karena saya suka wanita yang kritis. Dalam perjalanannya pegel juga, ini itu harus diputuskan dengan voting karena dia selalu mendebat saya. Gimana bisa voting? Wong anggota pemerintahannya genap. Ya cuma kami berdua itu. Lebih pegel lagi kalo si sok smart itu cuma ingin mengimbangi cara berpikir saya yang memang ruwet ini. Tapi yang ini lebih baik dari cewek matre. Masalahnya, dijakarta susah cari cewek smart yang tanpa pretensi nge begoin laki-laki. Kawan saya, si udin bersikeras mengutip ‘saman’: cinta adalah keterlibatan, rupanya mantra itu terlalu berat untuk saya. Kawan saya yang lain: biarkan cinta mengalir apa adanya. Nah yang ini repot. saya orang yang mudah jatuh cinta, bukannya cinta mengalir apa adanya, yang ada ‘cinta mengalir kemana-mana’. Akhirnya saya harus ikuti saran mas pandi, tukang becak langganan eyang putri saya di jatim sana. Kata dia: ‘cinta itu sedapetnya’. Dapet cakep alhamdulillah, dapet jelek alfatihah..

pengajian

Hari selasa nih. Biasanya masjid disebelah kost-an ada pengajian ibu-ibu. Kok masih sepi ya. Kadang rasanya pengen saya bubarin aja tuh pengajian. Percuma, gada manfaatnya, Kiai nya asal jeplak, pakai pengeras suara pula. Saya pikir kiai ini hanya bicara ngawur, setelah saya kasak-kusuk sana-sini saya sadar kiai itu mempunyai dasar dari teks al-karim untuk bercuap-cuap aneh. Dibawah ini salah satu isi pengajian aneh itu. Ini pengajian ibu2 lho, kisah pertama: sang kiai dengan meniru gaya bicara uztad ditelevisi dengan berapi-api menyampaikan hal ketaatan istri dalam islam. Belau kembali merefrain cerita (kalo gak salah disampaikan da’i sejuta umat itu..) perang badar. Sebelum berangkat perang sang suami berpesan pada istrinya: ‘ma, a’a mo perang dulu ya. Kamu gak boleh pergi kemana-mana’ setelah beberapa hari datang utusan dari keluarga istri yang memberitahukan bahwa ortu si istri sakit keras, minta dijenguk. Sang wanita menolak demi mengingat pesan suaminya. Hal itu berulang ketika utusan mondar-mandir meminta kesediaan wanita itu menjenguk ortunya. Bahkan ketika ajal merenggut ortu si wanita, dia tetep emoh meninggalkan rumah karena belum mendapatkan ijin suaminya untuk meninggalkan rumah. Kiai itu berkata, itulah contoh wanita yang ahli surga karena ketaatan pada suami. Ortu si istri jg akan masuk surga karena ketaatan anaknya pada suami. Kisah kedua: ketika suami memanggil istrinya untuk berhubungan, istri harus, wajib untuk segera memenuhi panggilan itu. Bahkan walaupun istri sedang membaca al-quran dan baru satu ayat. Mengajinya Wajib dihentikan. Segerakan panggilan suami. Insya Allah pahala satu ayat sama dengan pahala satu surah. Ditambah pahala berhubungan. Dalam kondisi apapun istri harus taat. Suami minta berhubungan diatas punggung unta, istri harus mau. Bahkan suami minta berhubungan diatas kotoran unta, istri harus memenuhinya. Rasanya pada saat itu pengen saya rebut mikrofon dari tangan kiai, Dan membubarkan pengajian itu. Ditahun 2009 abad 21 dimana isu HAM adalah isu besar, ceritanya tentang perang badar. Cerita tentang perbudakan, pelanggaran ham bukannya ketaatan. Pertanyaannya adakah ayat yang membenarkan ucapan kiai itu? Sahabat saya memiliki jawabannya: ada!! ‘istri-istrimu adalah ladangmu’, ‘maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kau sukai dan takutlah kepada Allah’ kata al-quran. Saya tertegun masygul mengulangi ‘datangilah kapan saja’, ‘dengan cara yang kau suka’. ‘takut pada Allah’nya sih mbuh-mbuhan. ‘Kapan saja’ dan ‘cara yang kau suka’ udah pasti. Banyak mufti yang memaknai ‘iqra’ dengan telanjang, ‘read’ ‘recite’, ‘baca’ ‘ulangi’. Mengulang dengan mulut sudah jamak dilakukan bahkan dengan ‘dilagukan’ dengan mendayu. Sementara pintu ‘pemaknaan’ seolah tertutup. Dengan dalih menjaga keaslian, teks al karim itu hanya menjadi teks ‘kering’ ditangan mufti-mufti arogan.

ngeceng di mall

Salah satu hiburan murah meriah dikota metropolitan batavia adalah je je es di mall. bagi orang dusun seperti saya yang taunya cuma alun-alun tempat untuk ngeceng, mall adalah kemewahan. Kemewahan yang mampu membuat saya termangu dalam kegumunan yang mendalam. Sore kemarin saya ke mall taman anggrek, salah satu tempat belanja paling prestisius di jakarta. Dengan kemeja yang dimasukkan kecelana, dan bersepatu tentu saja. Kalo’ pake sendal, takut karakter udiknya kumat -sampe dipintu masuk, sendal dilepas seperti mau masuk masjid. Masuk MTA serasa di hongkong, banyak kokoh dan cicih berbelanja. Seru. Kadang mereka lupa memencet tombol bilingual, dan bercelotehlah mereka dalam bahasa mandarin. Untungnya saya gak ajak kiswo. malu dong, pengunjung lain berbincang mandarin, english, korea sementara saya dan kiswo berbincang dengan bahasa ndesit. Biar gak keliatan cupu-cupu banget, saya masuk ke salah satu gerai pakaian pria. buset, harga kaus kutung nya bisa buat bayar cicilan motor bebeknya kiswo. Harga kemeja nya bisa buat ongkos melahirkan istrinya si amin, Cesar pula. Mbak-mbak penjaga counter memandang judes. Tatapan matanya seakan mengatakan ‘hus, hus, kere jangan keluyuran disini’. Itulah kesaktian spg, seakan mempunyai radar mahasensitif yang dapat membedakan antara kaum kere dan kaum borjuis. Tatapannya mampu menembus, membelah isi dompet saya yang isinya cuma bon-bon alfamart dan slip gaji. Percuma saya pakai sepatu..

anak sma jaman sekarang

Ngobrol dengan anak sma memang menggemaskan. Mereka cantik, imut, wangi, energetik pletik-pletik kesana kemari. untungnya saya bukan pengikut syeh puji. Nampaknya anak-anak sma ini pun nyaman berbincang ini itu yang remeh. Berikut perbincangan seru itu: ‘de, kamu tau pki?’ ‘pki? Pki apa ya kak, aku nggak tau.’ ‘itu tuh, yang 30s/pki’ ‘enggak tau, apaan sih?’ ‘lah, emangnya pelajaran sejarah disekolah apaan yang diajarin gurunya?’ ‘o, sejarah ya.. Pelajaran sejarah tiap hari rebo. Aku inget banget.’ ‘trus pki apaan de?’ ‘gak tau.’ senyum manisnya mengembang. ‘coba tanya temen kamu dibelakang.’ dia pun kasak-kusuk dengan beberapa temannya. Agak lama dia baru mendekat ‘partai kompenis indonesia ya kak’ duh gusti nu agung, ditanya pki dia gak ngeh. Disuruh tanya, masih aja salah. ‘ah yang bener de.. Kamu ngarang banget sih’ ‘ih bener kok kak. Trus apa dong? Aku penasaran nih’ ‘au ah, saya pusing. Sana kamu ngobrol sama temen kamu’ sengit saya. Gondok campur kesel. Emangnya pelajaran sejarah di sma jakarta sudah berganti kurikulum sedahsyat itu. Sampai-sampai peristiwa kup terbesar di republik ini tidak mendapat tempat walau satu paragraf. Tak lama gadis cantik mungil itu kembali. ‘kakak, jorok banget sih. Ih kakak jorok’ dia menginjak injakkan kakinya ke lantai. Mukanya cemberut. ‘pki tuh pasti jorok ya!!’ rupanya dia masih memikirkan perbincangan tadi. ‘jorok apaan? Emangnya pki apa?’ saya bingung. ‘pki, partai kont*l indonesia kan?! Ih kakak jorok. Aku kan masih 16 tahun kak. Kakak jorok.’ saya terdiam. Menyesal saya ajak ngobrol topik ini.. Kok ada abg setolol di jakarta. Biar lain kali kalo iseng ngobrol, mending ngobrolin mall aja. Pasti seru.